Cho Kyuhyun, NC

The story of Bear Family – Chap 2 –

Title: THE STORY OF BEAR FAMILY- PART 2

Rate: NC-21

Character: Cho Kyuhyun

Kris Wu

Han Saejin

Author : @mywhitevanilla
author
this is not my own fanfic .

P.S: Hallo ^^ just want to drop by and say thank you so much sama yang udah mau baca dan komen- komennya. Anyway, good luck buat semua teman- teman yang pada mau ujian nasional, hope the best for you! Semoga teman- teman suka part 2-nya, aku lagi dengerin lagu ost ailee di queen of ambition pasti bikin part ini hehehehe #infopenting -.- fighting!^^ comments are loved

Han Saejin menghabiskan beberapa menit berikutnya dengan berjalan ke sana kemari di kamarnya, kedua tangannya yang sedikit gugup saling berkait, dompet cokelat itu dibiarkan di atas meja. Saejin berhenti dan menatap dompet itu. Haruskah dia mengembalikannya? Tentu saja haruskan? Saejin mendesah, bagaimana pun benaknya berseru dia harus mengembalikan dompet itu bagian hatinya yang lain menanyakan bagaimana caranya mengembalikan dompet itu karena pertama, bertemu dengan dengan seorang Super Junior Kyuhyun sama susahnya dengan melipat tanaganmu ke belakang dan untuk orang biasa seperti Saejin dia harus membayar cukup mahal untuk bertemu pria itu, istilahnya—dia harus menghemat uang jajannya selama beberapa bulan. Dan kedua, haruskah dia bertemu pria itu sedangkan melihat wajahnya saja adalah hal yang Saejin hindari? Dan dia sedang berusaha melupakan apa yang terjadi kemarin malam. Haruskah dia bertemu pria itu lagi?

Saejin menghela nafas. Sebelum dia berfikir lebih jauh tiba- tiba pintu kamar terbuka dan Saejin reflex berlari ke arah mejanya dan melempar dompet itu ke dalam lacinya. Sunny melangkah masuk sambil menguap, menatap Saejin dengan heran karena gadis itu duduk di tempat tidurnya dan bukannya belajar, seperti yang sering gadis itu selalu lakukan setiap malam untuk mengejar prestasi—ambisinya.

“S—sudah pulang?” kata Saejin sedikit gugup. Sunny mengangkat keningnya. “Kau kenapa sih? Dari tadi aneh sekali…”

Saejin menggeleng. “Aku baik- baik saja. Oh iya, tugas,” gumamnya dan langsung melompat ke kursi belajarnya dan mengerjakan tugasnya, ketika dia mendengar suara pintu kamar mandi ditutup gadis itu membuka lacinya perlahan dan mengambil dompet itu dan menatapnya. Entah mengapa memegang dompet itu saja membuat tangannya bergetar dan jantungnya berdebar. Sial, haruskan dia bertemu pria itu lagi? Entah apa yang akan terjadi dan bagaimana mereka akan menghadapi satu sama lain. Tapi menemukan dompet dan tidak mengembalikan pada pemiliknya tetap saja salah.

“Eish,” Saejin membenamkan kepalanya di buku dan menutup mata.

Haruskah dia mengembalikannya? Setelah semua yang terjadi, sanggupkah Saejin bertemu dengannya lagi?

*

Kyuhyun baru saja menyelesaikan sesi rekaman untuk proyek ‘Radio Star’ minggu depan bersama Kim Gura dan yang lainnya, kegiatan terakhir di jadwal yang sangat padat hari ini. Dan besok dia harus menyelipkan waktu untuk persiapan tur Asia mereka beberapa minggu kedepan. Kadang- kadang Kyuhyun menganggap keajaiban dia bisa menyelesaikan semua jadwal itu meskipun jam tidurnya harus dikorbankan.

“Suguhaseyo,” sapa mereka satu sama lain sebelum meninggalkan ruangan. Kyuhyun menyapa rekan kerjanya dulu lalu meninggalkan mereka, ditemani manajernya.

“Aku sudah berdiskusi dengan salah satu staff di acara Strong Heart tadi, besok pagi kau dan aku akan ke sana untuk meminta maaf atas kekacauan yang kau timbulkan tadi di studio,” kata Manajer Park Jong Hoon dengan nada datar ketika mereka berdua berjalan menyusuri koridor gedung yang kosong. Dikarenakan jadwal Kyuhyun yang sangat padat minggu depan rekaman Radio Star terpaksa dilakukan larut malam dan dia sangat berterima kasih pada para sunbae yang mau mengalah dalam hal ini. Kyuhyun menghela nafas. “Arasso,” ujarnya dingin. “Apa jadwalku besok?”

“Besok jam 9 pagi kita sudah di kantor SM untuk mendengarkan mode album baru SJ-M, setelah itu kau harus di gedung KBS untuk rekaman show baru Changmin, dan malamnya kita harus bersiap- siap untuk berangkat ke Thailand.”

Kyuhyun menghela nafas. Sepertinya kata ‘istirahat’ adalah hal yang sangat amat jarang dia dengar selama beberapa tahun belakangan ini.

“Malam ini—“

“Aku akan pulang sendiri. Appa ingin menemuiku di rumah mala mini,” kata Kyuhyun dingin. Manajer Park berhenti sebentar lalu menghela nafas. “Baiklah, jam 7 kita sudah di gedung SBS. Get it?”

Kyuhyun tidak menanggapi. Mereka pergi ke ruang rias untuk mengganti baju santai dan berpisah jalan di pelataran parkir. Kyuhyun memasang maskernya erat- erat ketika melihat puluhan fans di depan pintu masuk, memutuskan untuk melewati jalan yang dapat tembus langsung ke tempat parkir di belakang dan menemukan mobilnya.

Banyak pikiran yang mengganggunya selama dia mengendarai mobil di jalan kosong itu. Terlalu banyak hingga dia tidak tahu yang mana yang harus dia fokuskan. Sejujurnya semua terasa sangat kabur saat ini dan yang paling menyiksa adalah dia tidak memiliki siapapun yang membuatnya merasa nyaman untuk menyalurkan pikirannya. Yang dia inginkan saat ini sebenarnya pergi menjauh untuk menenangkan pikiran tapi itu sama saja dengan menghancurkan dan mengacukan jadwal Super Junior dan merugikan perusahaan. Terkadang dia berfikir sampai kapan dia harus menanggung beban seberat itu.

“Mianhae Kyuhyun—ah, aku tidak bisa. Aku mencoba untuk mempertahankan hubungan ini tapi aku… sebenarnya aku sedang sangat bingung. Semua ini terjadi terlalu mendesak dan kadang berharap kau benar bahwa aku bisa membagi urusan pribadi dan pekerjaanku. Kenyataannya sekarang ini aku sangat lelah dan bingung, aku harap kau mengerti…”

“Kau pasti marah padaku, aku mengerti. Aku hanya berharap… kau bisa memahami dan membiarkanku pergi. Aku masih menyayangi dan mencintaimu, tapi untuk sekarang ini aku ingin focus pada grupku…”

“Bisakah kita berpisah dulu?”

Kyuhyun segera berhenti di tepi jalan, menimbulkan suara decit yang mengganggu keheningan malam, menutup mata dan menyandarkan kepala di kepala kursi. Tangannya memukul stir di depannya dan mengumpat. Tidakkah ini terlalu mendadak? Tidak juga, dia sudah memperkirakan ini akan terjadi, sejak gadis itu menjadi sibuk dan jarang berhubungan dengannya. Kyuhyun mengerti, itu juga yang terjadi ketika dia dan para hyungnya sedang dalam perjuangan menaikkan popularitas grup mereka yang menanjak. Dan dia juga dapat melihat dari gelagat gadis itu padanya, tapi jauh dalam hatinya masih berharap mereka bisa bertahan dan gadis itu adalah gadis polos yang sama seperti ketika mereka baru memulai hubungan sebagai kekasih. Mungkin Kyuhyun terlalu naïf untuk percaya bahwa seseorang tidak akan berubah.

Kenyataannya gadis itu berubah dan Kyuhyun masih belum siap menerimanya.

Kyuhyun menghela nafas panjang, berusaha menahan marah dan kesedihan di hatinya. Setelah beberapa menit diam dia memutuskan untuk pergi ke kafe kopi dan menenangkan diri.

Kafe cukup sepi ketika dia datang dank arena itu ‘penyamarannya’ dalam topi hitam dan masker cukup ampuh kerena orang- orang sibuk dengan urusannya.

“Hot Capuccino,” kata Kyuhyun. Gadis di depan kasir tersenyum dan memesankannya segelas hot cappuccino.

“1500 won,” kata gadis itu. Kyuhyun membuka tas selempang hitamnya dan mengambil dompet, tangannya masuk untuk menggapai dompet di dalam tas namun yang sejauh ini dapat digapainya hanyalah ponsel, ipod, dan kartu paspornya.

Kyuhyun tertegun sebentar, kali ini membuka tasnya dengan dua tangan dan mencarinya, merasa sedikit gelisah. Tapi hasilnya nihil, dompetnya bahkan tidak ada di laci tas. Dia terdiam sebentar. Mungkinkah jatuh di mobil? Tapi sepertinya dia tidak mengeluarkan dompet dari tadi, bahkan dari tadi pagi. Dia bahkan tidak pernah membuka tasnya. Jantungnya berdebar kencang, di mana domeptnya?

Gadis di depan meja kasir memperhatikannya dengan tidak sabar. “Jogii—“

Kyuhyun tersadar. “Pesanannya batal.” Katanya singkat dan dingin lalu berjalan keluar kafe tanpa menunggu respon dari si gadis kasir. Kyuhyun berlari masuk ke mobilnya dan dengan sedikit emosi mencari dompet di sekitar tempat duduknya, meskipun dia tahu itu adalah tindakah bodoh karena sedari tadi dia tidak mengignat pernah membuka tasnya untuk mengeluarkan sesuatu.

Bagus. Sekarang dompetnya entah di mana. Kyuhyun mendesah dan bersandar di kursi mobil dan menutup mata.

Bisakah harinya lebih buruk lagi?

Tapi sesuatu seperti datang mengganggunya.

Tunggu, mungkinkah—?

*

“Tolong periksa lagi, dompetnya berwarna cokelat—“

“Maaf, Tuan, kami sudah membersihkan kamar tadi setelah Anda pergi, kami tidak menemukan apapun—“

Kyuhyun mendesah, masih berkutat di balik maskernya. Untung saja kemarin staff yang memesankan kamar untuk para member beristirahat dan Kyuhyun meninggalkan ruangan jauh pagi sebelum waktu chech in habis sehingga mereka tidak tahu itu adalah Kyuhyun. “Kalau begitu, apa aku bisa masuk dan mencari lagi? Mungkin saja—“

“Maaf Tuan, ruangannya sudah digunakan tamu lain,” resepsionis itu terlihat menyesal. Kyuhyun mendesah.

“Baik, terima kasih.”

“Hyungsung—ah, apa kau tidak menemukan dompet di ruang rias? Warnanya cokelat. Tidak? Kau yakin? Baik, terima kasih.” Kyuhyun menutup ponselnya ketika keluar dari pintu hotel. Dia juga tidak mungkin menghubungi pihak staf SBS karena saat ini sudah sangat larut malam dan yah, mereka sedang sebal karena keterlambatannya tadi pagi.

Sepertinya kiamat untuknya sudah datang mengingat semua kartu dan beberapa kertas pribadinya berada di dalam dompet, bahkan kartu kredit dan atm. Dan dia membutuhkan kartu penduduknya saat check in di bandara nanti. Dan tentu saja dia tidak punya waktu untuk mengurus semua itu, kecuali semua penerbangannya di batalkan, yang tentu saja tidak mungkin karena bisa menimbulkan kekacauan.

Sial. Hidupnya memang sedang dirundu sial.

*

Saejin duduk bersandar di pohon besar lapangan kampusnya, sibuk menulis sesuatu di buku pelajarannya, mencoba menghapal untuk kuis setelah jam istirahat. Gadis itu terkaget ketika melihat segerombolan senior yang datang dan bermain bola di lapangan menimbulkan kegaduhan. Saejin mendesah dan meangambil ipod dari tasnya untuk ‘menutup’ pendengarannya dan sebuah benda berwarna cokelat ikut tertarik keluar, menyita perhatiannya. Saejin diam menatap dompet itu. Eish, ini dia benda yang membuatnya galau semalaman.

“Haruskah aku mengembalikanmu?” kata Saejin pada dompet itu. Saejin mendesah. Cho Kyuhyun bukanlah orang biasa yang gampang dia temui. Ibaratnya untuk orang biasa seperti Saejin, harus membayar cukup mahal agar bisa menemui Kyuhyun. Dan lagipula, dia tidak sanggup membayangkan bagaimana mereka bisa menghadapi satu sama lain setelah apa yang terjadi.

Tapi di dalam dompet itu adalah barang- barang ‘keramat’ yang kalau hilang pasti menimbulkan bencana untuk Kyuhyun.

Saejin menggeleng. “Eish—aku harus bagaimana? Kau tidak bisa pergi sendiri ke tuanmu ya?’ Saejin berkata pada dompet itu, membuatnya terlihat seperti orang gila. Saejin menatap dompet itu.

Harus bagaimana sekarang?

*

Dan kenekatannya yang patut ‘dipuji’ membuat gadis itu sekarang berdiri di depan kantor SM, terpana melihat lautan fans di sekitar gedung dengan berbagai macam warna balon. Biru safir, merah, pink, turquoise, dan beberapa warna lainnya. Saejin berdiri dengan mulut terbuka seperti orang bego dan otaknya sendiri pusing memikirkan cara yang tepat untuk masuk ke dalam gedung. Bisakah dia titip ke sekuriti saja?

Ani, apakah Kyuhyun memang berada di dalam?

Tiba- tiba sebuah van berwarna putih berhenti tak jauh darinya dan beberapa staff sekuriti dari gedung berlari mengawali siapa yang akan turun. Beberapa menit kemudian pintu terbuka, menampakkan beberapa gadis yang familiar, berjalan dikawal oleh para sekuriti, karena fans mereka segera berlari menyambut mereka dengan histeris. Mereka adalah girl grup ciptaan SM, Praline’s yang terdiri dari 7 anggota dan sedang sangat terkenal setelah merilis album kedua mereka. Saejin tertegun ketika melihat salah satu sosok yang mencolok karena memang yang paling cantik di grup itu, namanya Shin Saeryung.

Gadis itu memang paling banyak penggemarnya karena dia image dari grup itu. Tingginya semampai dan auranya sangat cantik. Saejin sendiri terdiam kagu menatapnya.

“Apa menurutmu aku harus melupakannya? Kalau iya, bagaimana cara yang tepat?”

Timah panas kembali mengisi perut Saejin. Yah, gadis itu memang terlalu cantik untuk direlakan, yah? Dan sepertinya sifatnya juga sangat baik. Saeryung melambai pada penggemar dan tersenyum, dengan ringan hati menerima hadiah mereka. Saejin hanya bisa menyaksikan itu dalam diam, memikirkan bagaimana mungkin ada manusia yang mempesona seperti itu.

Dan entah kenapa rasa minder merasukki benaknya, dan juga sedikit perih di hatinya.

Hei, kenapa dia harus merasa minder? Memangnya Saejin siapa? Eish, Saejin menggeleng. Mereka toh memang ibaratnya langit dan bumi, terima saja dengan ikhlas.

Dan ketika dia tersadar keributan di depannya sudah mereda karena para member Praline’s sudah di dalam gedung dan penggemar mereka memutuskan untuk pulang, menyisakan penggemar grup lain. Saejin mendesah.

“Bagaimana cara mengembalikanmu?” bisik Saejin pada dompet yang sekarang ini digenggamnya. Sesungguhnya dia ingin pulang tapi sama saja dia membuang waktu. Sudah di sini, sekalian saja kembalikan. Gadis itu dengan nekat berjalan menerobos para penggemar.

“Permisi, permisi—“ gumam Saejin sopan tapi malah mendapat tatapan tidak senang dari mereka, mengira Saejin ingin memotong barisan.

“Yah, kau tidak bisa menunggu di belakang ya?” ujar salah satu dari mereka sinis. Saejin menatap gadis itu. Eish, dia tidak mungkin kan bilang kalau dia ingin mengembalikan dompet Kyuhyun? Mereka pasti akan menyerbunya. “Bukan begitu, aku punya sedikit keperluan. Aku harus masuk.”

“Yah, kau pikir kami akan percaya bualanmu? Kau ini naïf atau bodoh? Keperluan apanya,” omel yang lainnya. Saejin mengela nafas, seandainya menampar orang bukan dosa. Sudahlah, untuk apa meladeni mereka? Saejin hanya menarik nafas dan terus berjalan tapi yang lain malah menariknya mundur. “Yah, kau ini tidak tahu aturan sekali sih!”

“Yah, aku datang untuk urusan!”

“Urusan apa? Memangnya kau apa di sini? Staff? Trainee?”

“Aniya, ini masalah lain!”

“Alasan! Kau tidak boleh sembarangan datang dan mengganggu mereka, di sini ada peraturannya!”

“Yah, lepaskan aku!” ujar Saejin dengan nada sedikit mengancam tapi gadis- gadis menyebalkan itu tidak melepaskan pengangan tangannya.

“Hey, itu Yesung oppa!” teriak salah seorang penggemar, menunjuk kea rah mobil sedan yang sedang menepi di pinggir jalan dan rombongan kembali dengan histeris berlari kea rah mobil Yesung. Gadis- gadis tadi melepaskan pegangan tangannya dan semua berlari menyambar Saejin yang masih terdiam di tempatnya hingga beberapa orang menyambarnya dari belakang dan gadis itu terjatuh. Seolah belum cukup tangannya yang bertumpu di aspal diinjak oleh beberapa gadis yang sepertinya memang tidak perduli ada yang baru saja jatuh dan rambut Saejin menjadi berantakan. Saejin masih terkejut dan meringis sakit, duduk di tempatnya memperhatikan para penggemar yang sekarang mengerubungi Yesung yang kelihatan sedikit enggan dan lelah. Saejin mendesah, tangannya sakit dan sekarang hatinya dipenuhi emosi dan amarah, menatap kawanan barbar itu tanpa tenaga.

Apakah dia memang harus melewati ini semua untuk mengembalikan dompet pada seorang Cho Kyuhyun?

Saejin mendesah, menatap dompet di dalam tasnya dengan tatapan hampa, tidak perduli dengan tatapan orang yang lewat, menatapnya dengan heran.

“Aku tetap harus mengembalikanmu ya? Eish…” Saejin menghela nafas. Anggap saja untuk berbuat benar memang kadang- kadang memerlukan keikhlasan dan pengorbanan.

Saejin berdiri dan merapikan rambutnya yang sudah terlanjur berantakan, menghela nafas ketika dua orang berjalan melewatinya.

“Mati kita, kita sudah terlambat. Trainer Kim pasti akan memarahi kita!”

“Lewat jalan belakang saja, tidak ada jalan lain.”

Saejin tertegun, menatap dua orang yang berlari- lari kecil kea rah belakang gedung SM. Matanya perlahan berbinar- binar.

Matanya memperhatikan dua orang yang memanjat tembok itu sebelum kemudian masuk ke sebuah pintu yang memang tidak terkunci. Aigoo… jadi dia harus memanjat? Saejin menghela nafas. Sudahlah, sudah kepalang basah—sekalian saja dia tuntaskan agar dompet itu tidak perlu menjadi beban lagi. Saejin mengukuhkan tekadnya, dan melempar tasnya ke dalam agar tidak tersangkut. Gadis itu melompat setinggi mungkin untuk meraih bagian atas tembok dan bergantung di situ, lalu kakinya perlahan mendaki tembok itu—beruntung dia sedikit lihai dalam memanjat mengingat prestasi memanjatnya di sekolah dulu saat dia terlambat. Beberapa menit kemudian gadis itu sudah berhasil masuk ke dalam wilayah gedung SM.

Mau tidak mau dia deg- degan juga ketika masuk ke dalam gedung. Selain karena dia ‘menyelinap’ secara illegal, dia baru saja melewati beberapa artis yang hanya dia liat di tv. “Ah, Lee Yonhee artis SM juga?” batinnya ketika melihat Lee Yonhee yang baru saja lewat dan tersenyum ramah padanya, meskipun terlihat sedikit bingung. Saejin berjalan pelan, sedikit takut- takut karena dia tahu tidak ada orang yang mengenalnya. Dan ngomong- ngomong, gedung ini adalah gedung SM, yang sudah memproduksi banyak artis dan grup terkenal.

Gadis itu menatap tulisan Star Museum Entertainment yang terpampang jelas di dinding dan menarik nafas. Dia tidak pernah menyangka bisa ada di sini.

Sekarang, harus ke mana dia? Di mana ruangannya Super Junior?

Ngomong- ngomong, apakah Kyuhyun memang ada di sini? Bagaimana kalau tidak? Tapi dia toh setidaknya bisa menitipkan dompet itu pada kenalan Kyuhyun. Mungkin juga pada Yesung? Eish, memikirkan akan bertemu dengan idolanya hatinya berdebar cukup kencang juga.

Tiba- tiba seseorang menepuk belakangnya. Saejin berbalik dan terkesiap melihat petugas sekuriti.

“Nona, anda siapa? Di mana tanda pengenalmu?”

Saejin tertegun.

Mati dia.

“A—aniyo,”

“Anda ada keperluan apa di sini? Anda ingin mencari siapa?”

“A—i—itu—“

“Kalau Anda tidak ada keperluan apa- apa di sini, silahka keluar,” sekuriti tersebut menunjuk pintu keluar dan Saejin tertegun. Apa- apaan ini? Dia sudah susah payah masuk di sini dan sekarang dia harus pergi? Haruskah dia bilang yang sebenarnya pada mereka bahwa dia ingin mengembalikan dompet? Siapa tahu sekuriti ini bisa membantunya.

“Nona? Apa anda mendengar saya? Silahkan keluar,”

“Dia temanku.”

Saejin membeku mendengar suara di belakangnya.

“Oh, Kyuhyun—ssi,” kata sekuriti itu, membungkuk hormat. “Dia tidak menjawab waktu kami tanya.”

“Dia hanya takut kalian tidak percaya. Ayo pergi,” kata Kyuhyun menepuk pundak Saejin perlahan dan gadis itu masih tertegun. Mati dia. Mati dia. Bagaimana dia harus melihat wajah Kyuhyun lagi kalau melihat suaranya saja jantungnya seperti mau copot? Dan ketika Kyuhyun menepuknya Saejin merasa tersengat listrik karena ingatan- ingatan itu muncul lagi di benaknya membuat pipinya panas dan sekujur tubuhnya lemas. Bagaimana ini?

“Jogiyo,” kali ini Kyuhyun berdiri di depannya dan dia masih tidak berani menatapnya. Aroma maskulin pria itu kini mengusiknya, sangat mengusiknya dan dia bersumpah hanya ingin kabur dan pergi saja sebelum jantungnya meledak di sini atau dia mempermalukan dirinya. Tidak, dia pasti hanya akan mempermalukan dirinya.

“A—aku hanya ingin mengambalikan dompet, i—ini—“ kata Saejin tanpa menatap Kyuhyun, menyodorkan dompetnya dengan tangan bergetar, masih tidak berani menatap pria itu. Sial, wajahnya pasti sangat merah sekarang.

Kyuhyun menatap dompet itu dengan terkejut. Perlahan tangannya mengambil dompet itu. Sesungguhnya dia tidak mengira akan bertemu dengan gadis ini lagi dan entah mengapa dia merasa salah tingkah karena apa yang sudah terjadi malam itu. Dia ingat nama gadis itu tapi tak berani memanggilnya, dia tidak berani bersikap ramah pada gadis itu.

Sesungguhnya dia tidak tahu harus bersikap bagaimana di depan gadis bernama Saejin ini.

“T—terima kasih banyak,”

“A—aniyo. Aku pergi dulu terima kasih,” kata Saejin segera dan berjalan pergi tapi Kyuhyun menahan lengannya. “Tunggu sebentar.” Kata Kyuhyun. Apapun itu dia merasa brengsek bila harus membiarkan gadis itu pergi begitu saja. Sesuatu dalam dirinya meneriakkan bahwa dia harus bertanggung jawab, lagipula gadis itu sudah susah payah mengembalikan dompetnya, bisa dilihat dari rambutnya yang sedikit berantakan dan tangannya yang memerah. Gadis itu tidak tahu betapa terselamatkannya jadwal Kyuhyun hari itu dengan dia mengembalikan dompet Kyuhyun.

Saejin tertegun dan matanya melebar. Lagi- lagi tubuhnya tersengat listrik merasakan kehangantan tangan Kyuhyun yang menggenggam lengannya. Gadis itu menatap genggaman tangan Kyuhyun membuat pria itu terdasar dan melepaskan genggamannya, membuat mereka berdua salah tingkah. Kyuhyun menyadari tatapan orang yang lewat. “A—ada yang ingin aku bicarakan. B—boleh ikut aku… sebentar?”

Saejin masih diam, masih tidak berani menatap Kyuhyun tapi dia mengangguk perlahan dan mengikuti kemana Kyuhyun berjalan.

Tanpa mereka berdua sadari seorang gadis memperhatikan mereka dari jauh sambil memegang segelas cappuccino yang baru saja dibelinya di cafeteria gedung. Saeryung menatap mereka berdua dengan tatapan yang tak dapat dibaca.

Mereka berdua duduk di kursi panjang di gedung belakang SM dengan jarak yang cukup jauh, menatap kea rah yang berbeda. Saat ini jantung Saejin masih berdegup kencang, sangat kencang.

“J—jogi,” mereka berdua sama- sama bicara dan kembali diam, sedikit malu.

“Kau duluan,” kata Kyuhyun. Suaranya seperti cokelat meleleh bahkan bila didengar dari dekat, Saejin sangat ingat itu.

“A—aniyo, a—aku h—hanya i-ingin tahu apa yang ingin k—kau katakan,”

“Bagaimana kau masuk ke sini.”

Saejin mencelos. “J—jalan belakang,”

“Jalan belakang?” Kyuhyun terdengar sedikit heran. “T—terima kasih banyak, hidupku benar- benar terselamatkan sekarang.”

Saejin tidak menjawab. Gadis itu merasa semakin dia bicara dia seperti sedang mempermalukan dirinya sendiri. Mereka tidak saling mengenal secara teknis dan Saejin hanya idolanya, tapi mereka malah melakukan hubungan itu karena sama- sama mabuk. Saejin pasti terlihat seperti gadis murahan sekarang dan entah mengapa hatinya terasa perih, sangat perih dan malu dengan dirinya.

“Malam itu,” kata Kyuhyun membaut jantung Saejin berdebar kencang. “Mianhae,”

Kembali Saejin mencelos. Cho Kyuhyun berkata ‘maaf’, seperti menegaskan bahwa malam itu adalah sebuah kesalahan dan entah mengapa sekarang Saejin merasa kesal dan sakit hati. Saejin terseyum hampa dan sedikit sinis.

“Seandainya kata maaf bisa membuat waktu kembali berputar ke belakang,” katanya dengan nada pelan dan kali ini Kyuhyun menatapnya. Saejin tersadar dengan yang dia katakan dan kali ini dia berdiri, masih tidak berani menatap Kyuhyun. “A—ada j—juga ingin menyampaikan s—sesuatu. A—aku i—ingin melupakan y—yang terjadi, karena itu aku harap k—kau j—juga melupakannya, agar aku tidak perlu merasa tidak nyaman lagi. K—kalau kita berdua melupakannya, m—maka akan lebih lega rasanya.” Saejin menatap aspal dan entah kenapa matanya berkaca- kaca.

Dan bodohnya lagi, entah mengapa dia menunggu jawaban dari Cho Kyuhyun.

Kyuhyun terdiam, masih menatap gadis itu. Entah mengapa dia merasa sangat berdosa. Saejin terlihat seperti gadis baik- baik, semua dapat terlihat dari sikap dan cara berpakaiannya. Seandainya malam itu Kyuhyun tidak mabuk dan malah bersikeras menawari gadis itu wine…

“Maaf.” Kata Kyuhyun lagi. “Jeongmal mianhae.”

Saejin tanpa sadar mendesah pelan, berusaha keras menahan air mata di pelupuk matanya. Entah mengapa dia merasa lebih marah dan sedih mendenga permintaan maaf Kyuhyun. Tanpa berkata apa- apa Saejin hanya menunduk pelan dan berjalan meninggalkan Kyuhyun sendiri.

Gadis itu berjalan sedikit cepat, tidak sadar dia berjalan ke mana dan di mana, yang penting jauh- jauh dari Cho Kyuhyun. Bodoh sekali dia, ada apa dengannya—kenapa dia harus bersikap seperti itu? Han Saejin pabo!!! Saejin mengusap air mata yang membasahi pipinya, tidak memperhatikan Key dan Onew dari grup SHINee yang baru saja lewat dan menatap gadis itu dengan heran. Saejin terus berjalan dan menemukan peta gedung di dinding. Dia hanya perlu belok kiri dan berjalan terus untuk menemukan pintu samping gedung itu. Saejin berjalan secepat yang dia bisa. Setelah ini bukankah lebih bagus? Dia tidak perlu berurusan lagi dengan Cho Kyuhyun, idolanya. Tapi entah mengapa dia malah merasa… kacau.

Saejin berjalan keluar dari gedung, masih mengusap matanya. Gadis itu berjalan ke jalan kecil keluar dari tembok gerbang menuju ke trotoar dan menemukan jalan besar.

Tapi dia berhenti ketika melihat gadis- gadis yang tadi kini menatapnya dengan terkejut dan heran.

“Yah, kau lagi—b—bagaimana kau bisa keluar dari situ?” kata yang satu denga mata terbelalak. Tapi Saejin sudah lelah melayani mereka, gadis itu hanya berjalan melewati mereka tapi gadis- gadis itu kini menahan tangannya dan menariknya dengan kasar.

“Yah, lepaskan aku!” bentak Saejin.

“Yah, kau sassaeng fan yah???” bentak salah satu gadis itu.

“Sassaeng fan atau bukan apa urusanmu? Urus saja masalahmu sendiri!” bentak Saejin, seidkit menyalurkan kekesalannya pada apa yang baru saja terjadi di gedung tadi. Gadis tadi terlihat sedikit terpukul dan marah lalu mendorong Saejin. “Yah, kau mau cari gara- gara ya?!”

“Sepertinya kau yang sedang cari gara- gara.”

Suara seseorang mengagetkan mereka dan mereka menatap sesosok jangkung berpakaian serba hitam dan menutup wajahnya dengan masker. Gadis- gadis itu hanya diam dan terlihat malu.

“Lepaskan dia. Kau tidak sadar yah sudah mempermalukan nama fanclubmu?” pria jangkung itu melirik balon dan bando biru yang dipakai para gadis menyebalkan itu. Saejin sendiri sedikit heran melihat ada pria sejangkung ini dan anyway, aksen bicaranya sedikit aneh. Gadis –gadis itu dengan enggan melepaskan cengkeraman mereka dan menatap Saejin dengan tajam yang dibalas Saejin dengan dingin dan tenang. Saejin mendesah.

“Terima kasih,” ujar Saejin pada pria jangkung itu tapi kemudian menyadari sesuatu. “Aish, ponselku—“ ujarnya kaget dan berlutu, melihat ponselnya yang jatuh dan baterinya keluar. Saejin menghela nafas. “Aish, dasar kawanan barbar” erangnya, sial sekali dia hari ini!

Tanpa disadarinya pria jangkung tadi tertawa mendengar umpatannya. Saejin hanya mencibir dan menatap ponselnya dengan sedih karena goresan di casing ponselnya yang sangat dia jaga. Aish, gadis –gadis sialan! Saejin mencoba menyalakan ponselnya yang hanya menampakkan layar putih. “Aish rusak!!!” keluh Saejin lagi, dan berdiri, mencoba mencari gadis- gadis tadi yang sudah pergi. Sial! Dia mau minta ganti rugi pada siapa???

“Mereka sudah pergi. Kau juga lain kali hati- hati, tidakkah kalian punya kegiatan lain selain seperti ini?”

Saejin mendelik pada pria dengan masker itu. Sepertinya dia sempat mendengar perkelahian mereka. “Aku bukan sassaeng fan!” kata Saejin sedikit galak, lalu berlutut lagi dan menatap ponselnya.

“Benarkah? Lalu kenapa kau di sini?”

“Bukan urusanmu,” kilah Saejin, masih sebal dengan kawanan barbar dan ponselnya dan sekarang pria ini ingin cari gara- gara setelah menyelamatkannya.

“Wah, kau galak juga.” Pria itu berjalan pergi tapi dia berhenti, menyadari sesuatu. Pria itu berbalik dan menatap Saejin yang berlutut masih meratapi ponselnya, berjalan pelan menghampiri gadis itu dan berlutut.

“Saejin—Han Saejin?”

Saejin tidak sadar, masih sibuk bersedih dengan ponselnya tapi dia kemudian menengadah dan menatap pria itu dengan bingung.

“Kau Han Saejin kan?”

Saejin mengerutkan keningnya. “N—neh, kau siapa?” sepertinya dia tidak pernah melihat pria jangkung ini.

“SD Gung Chou kelas 5 B, Han Saejin?” pria itu terlihat sedikit kaget. “Ini aku, Yi Fan! Wu Yi Fan!” lalu pria itu menurunkan maskernya ketika meliaht Saejin yang antara kaget dan masih bingung.

Saejin terperangah melihat wajah itu. “Yi Fan… Mu Yi Fan! Kau si tiang listrik Mu kan?”

“Berapa juta kali kubilang namaku Wu Yi Fan, bukan Mu Yi Fan!!!” kata pria itu sedikit kesal tapi lucu karena sejak dulu gadis itu selalu salah mengejakan nama mandarinnya. Dan malah menjulukkinya tiang listrik.

“Oh, Yi Fan—ah!! Astaga!!!” Saejin terlihat kaget dan juga senang. Entah harus memeluk pria ini atau tidak. Yi Fan sendiri tertawa melihatnya. Han Saejin memang tidak berubah.

*

“EXO-M?” Saejin menengadah menatap Yi Fan yang menjulan di sampingnya. Keduanya sedang duduk di bangku teman dekat gedung SM sambil menyesap jus jeruk—tepatnya Saejin yang minum, Yi Fan sedang menyamar dalam maskernya. Yi Fan mengangguk. “Masa kau tidak tahu?”

“Mianhae, aku sangat sibuk dengan sekolah terakhir ini.” Kata Saejin, sedikit menyesal. Lagipula sesungguhnya dia sangat kaget dengan fakta bahwa Yi Fan sekarang menjadi anggota grup boyband mengingat dia tak pernah menunjukkan tanda- tanda hebat dalam bidang menyanyi atau bahkan menari. Atau dia memang terlalu tertutup dan malu untuk menunjukkannya.

“Cih, kau tidak pernah berubah—selalu saja ambisius,” ujar Yi Fan. Saejin mencibir. “Ngomong- ngomong kau jadi apa di grup? Aku tidak pernah mendengarmu menyanyi, atau menari. Kau tidak terlihat berbakat,”

“Apa? Kau!” Kris menonjok kepala Saejin. “Aku leader, leader!” katanya dengan bangga dan sedikit memaksa.

“Geurom, kenapa mereka memanggilmu ‘Kris’? Siapa yang menyihir namamu jadi Kris?”

“Itu nama Amerikaku, dan mereka menganggap lebih baik aku debut dengan nama Amerikaku.”

“Memangnya kenapa dengan nama mandarinmu? Kurasa nama mandarinmu keren,” komentar Saejin.

Kris tersenyum, sejak dulu Han Saejin selalu adalah gadis terpolos yang dia kenal.

“Ngomong- ngomong, kenapa kau ke gedung kami? Kau menemui siapa?”

Saejin terdiam. “A—aniya, hanya seorang teman.” Saejin segera mencari topik lain. “Geurom… kau sudah tahu bahasa Korea kan? Kita tidak perlu sulit berkomunikasi lagi, sampai pakai gambar segala—“ dulu mereka memang sulit berbicara satu sama lain karena Saejin tidak fasih berbahasa mandarin dan Kris tidak tahu bahasa Korea. Dulu Saejin harus memakai buku penterjemah hingga dia sangat sulit beradaptasi di sekolah dan semua orang suka mengerjainya. Hanya Kris yang mau berteman dan bersusah payah bicara dengannya. Meskipun pada akhirnya mereka berdua jarang sekali bicara dan lebih sering memakai gambar atau isyarat.

Kris mengangguk.

“Bagaimana kabar Ibu Guru Chang dan yang lainnya. Aku tidak sempat berpamitan dengan mereka,”

“Sadar ya kau perginya terlalu buru- buru?”

Saejin mencibir.

“Tapi aku sangat senang bisa bertemu denganmu lagi. Sungguh.” Kata Saejin jujur. Kris terdiam, menatap gadis itu sebentar lalu memalingkan wajah. “Tentu saja, secara praktis aku malaikat penolongmu waktu itu.”

“Aigoo—berfikir saja sesukamu, Tiang Listrik Mu.” Kata Saejin yang membuat pipinya dicubit lagi oleh Kris. “Geurom, aku harus memanggilmu apa. Kris atau Yi Fan?”

“Terserah kau. Bagaimana kalau Yi Fan saja? Setidaknya aku bisa merasa seperti diriku sendiri.” Kata Kris kali ini lebih pelan.

“Arasso, Yi Fan—ssi,” ledek Saejin yang membuat Kris tertawa. Saejin selalu senang melihat Kris tertawa mengignat pria itu sangat amat jarang tertawa. “Ngomong- ngomong, aku harus pergi. Kita bisa bertemu lain kali saat kau tidak sibuk, haraboji pasti akan senang melihatmu!”

“Oh ya! Aku sangat rindu pada haraboji,” kata Kris dengan mata berbinar. Kakek Saejin sangat ramah dan baik padanya. Saejin tertawa mendengar aksen Kris yang lucu dan terkesan dipaksakan. “Kau sudah simpan nomorku kan?” tanya Kris.

Saejin mengangguk. “Baiklah, nanti kita bertemu lagi ya!”

“Kau naik apa? Perlu kuantar?”

“Aniyo, aku tinggal pergi ke terminal bus dekat sini. Kau kembali saja, bukannya kau mau latihan untuk comeback album?”

Kris terdiam dan mengangguk. Saejin tersenyum. “Aigoo—Mu Yi Fan, kau sekarang sudah berubah menjadi pria.”

Kris tertawa. “Kau tidak berubah. Sama bodoh dan lugunya.”

“Mwo?!?!”

Dulu teman- teman gadis di SD selalu marah dan cemburu padanya karena Saejin satu- satunya gadis yang berteman dengan Kris dan dekat dengannya. Saejin melambai dan berjalan pergi sementara Kris berdiri dan dengan senyum di balik maskernya, bersyukur Saejin tidak menyadarinya.

Kau juga tidak tahu betapa senang aku bisa melihatmu kembali, Han Saejin…

*

Setengah bulan berlalu, Han Saejin bertekad untuk melupakan semua yang terjadi antara dia dan Cho Kyuhyun. Well, dia pasti bisa. Hanya perlu sedikit usaha, dan sedikit terapi dengan cara tidak mendengarkan lagu- lagu Super Junior, menghapus semua lagu dari ipodnya dan menyimpan semua foto dan koleksi Saejin yang berhubungan dengan Super Junior atau Kyuhyun di dalam box yang cukup besar. Dia juga selalu mengganti channel TV setiap Super Junior muncul di layar. Memang taktik yang sedikit payah, tapi setidaknya dia ingin menata dulu perasaan dan hidupnya hingga bisa seperti normal. Mungkin sedikit sulit pertama kalinya mengingat Saejin sudah terbiasa menjadi penggemar Super Junior bersama teman sekamarnya dan kini dia harus menjauhi diri dari segala hal yang berbau mereka. Sunny terlihat sangat heran dan Saejin mengatakan bahwa dia sedang tidak ingin memperhatikan artis siapapun dan fokus pada semester akhirnya.

Dia pasti bisa melalui ini. Hidupnya perlahan akan kembali seperti semula dan dia perlahan akan membiarkan apa yang terjadi waktu itu menjadi bagian dari sekedar memori yang tidak terlalu ingin dikenangnya.

“Aku pulang” ujar Saejin sambil melangkah masuk dan terdiam ketika wangi aroma terapi Sunny menyambutnya. Saejin menarik nafas dan menutup mata, merasa sedikit kesal harus harus menciumnya lagi. Dia sedikit heran dengan dirinya sendiri, biasanya dia bsia menangani kebiasaan Sunny yang satu ini.

“Oh, kau pulang?”

“Mm—hm.” Saejin bergumam dan melangkah masuk ke dalam kamar, meletakkan tasnya di meja lalu duduk di kursi, tampak sedikit lelah. Sunny menatap Saejin dengan heran. “Yah, kau kenapa? Pucat sekali,”

“N—neh?” Saejin menggeleng. “Aniyo, hanya sedikit lelah,” Saejin menutup mata tapi wangi aroma terapi itu kembali merasukki hidungnya dan membuat kepalanya terasa berputar- putar. Tiba- tiba tenggorokannya terasa tercekat dan Saejin segera berlari ke kamar mandi, berlutut di depan kloset dan memuntahkan isi perutnya—yang cukup mengherankan mengingat dia tidak makan apapun hari ini karena selera makannya yang nihil. Sunny sudah di belakangnya, memijit lehernya. “Saejin—ah, gwenchana?”

Saejin mengangguk. “N—neh, gwenchana, sepertinya penyakit lambungku kumat,”

Sunny mendesah. Saejin membersihkan kloset, berkumur dan keluar, menahan nafas ketika wangi aroma terapi itu kembali menyerangnya. Gadis itu mengambil tas selempangnya. “Sunny—ah, aku pergi ke toko kakek dulu ya,” kata Saejin.

“Kau mau ke mana? Masih mual—“

Saejin menggeleng dan tersenyum pahit. Sunny memperhatikan tingkah laku sahabatnya dan menggeleng.

“Aigoo, kenapa kau tidak minum obat lambung? Sepertinya kau sering muntah- muntah beberapa hari belakangan ini. Seperti orang hamil saja.”

Deg!

Saejin terdiam, jantungnya serasa dipukul dan berhenti berdetak seketika, matanya membulat mendengar kalimat terakhir Sunny.

Seperti orang hamil saja.

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s