NC

The story of Bear Family -Chap 1

Title: THE STORY OF BEAR FAMILY

Genre: NC-21

Character: Cho Kyuhyun

Kris Wu

Han Saejin
Author : @mywhitevanilla
mywhitevanilla.wordpress.com

Part1

Normal POV

Han Sae-jin berjalan pelan dengan berjinjit, kedua tangannya memegang sepatu flat shoes agar tak mengeluarkan bunyi dan tasnya diselempangkan di kiri. Koridor yang dilewatinya mulai gelap dan yang dia inginkan hanya sampai di kamarnya sebelum ibu asrama menangkapnya. Tanpa sadar dia melewati cermin besar di dinding kiri dan Saejin berhenti—sedikit terkejut melihat dirinya yang sedikit berantakan meskipun dia menggunakan gaun putih yang manis.

Sesungguhnya suasana hatinya pun saat ini berantakan.

Matanya sudah kering dengan air mata tapi gadis itu tidak perduli. Beberapa menit kemudian akhirnya dia sampai di kamarnya yang sudah gelap dan sedikit berbau aroma terapi, yang menandakan Sunny teman sekamarnya telah tidur. Sunny tak bisa tidur tanpa aroma terapi. Saejin menghela nafas lega—bisa panjang urusan kalau Sunny belum tidur dan menemukannya baru pulang dengan keadaan seperti itu. Dengan berhati- hati Saejin meletakkan tas selempang di meja dan sepatu di rak sepatu kecilnya lalu mengambil handuk di beranda dan masuk ke kamar mandi.

Gadis itu terdiam sejenak dan bersandar di pintu, nafasnya tersengal- sengal. Selain karena perjalanan menegangkan hingga ke kamar asramanya, tapi karena sesuatu yang baru saja dia alami.

Ya Tuhan, apa yang baru saja dia lakukan?

Apa yang baru sama mereka lakukan?

Saejin menutup mata, dadanya masih berdebar kencang dan tanpa sadar airmata kembali membasahi pipinya. Dia tidak percaya dirinya bisa melakukan itu. Gadis itu berjalan dengan gontai dan sedikit mengisak, menyalakan shower yang hangat, menanggalkan pakaiannya.

Gadis itu kembali terdiam melihat tanda merah di dada, perut dan pundaknya dan rasa tegang itu kembali menyelimutinya.

Ya Tuhan… apa yang baru saja aku lakukan? Gadis itu menangis dalam guyuran air, menutup wajahnya.

Dia baru saja melakukan hal yang fatal.

*

Besoknya dia terbangun dan menemukan dirinya terlambat. Sunny sudah tidak ada di tempat tidurnya dan aroma wangi terapi sudah menghilang dari kamar, menandakan Sunny sudah pergi cukup lama. Saejin terbatuk sebentar dan kepalanya terasa berputar- putar. Sial, itu pasti efek minuman tak dikenal yang semalam diteguknya.

Tiba- tiba gadis itu tertegun.

Minuman…

Wine…

Saejin menggeleng kepalanya. “Andwe,” bisiknya, meyakinkan diri sendiri. “Aku tidak boleh mengingatnya.” Dua jam shower semalam menghasilkan keputusan bahwa dia apapun yang terjadi tadi malam tidak pantas diingatnya.

Tapi apakah semudah itu?

Apa yang terjadi tadi malam sangat- sangat fatal dan tidak seharusnya dia lakukan…

Saejin mengerang dengan suara serak dan mengubur kepalanya dalam selimut, mencoba meyakinkan diri bahwa dia hanya bermimpi.

Sial, dia tidak bisa mengatakan dia bermimpi.

Karena semua terasa sungguh nyata dan tanda- tanda merah dalam tubuhnya itulah buktinya.

Sunny menatapnya dari ujung meja ketika Saejin melangkah ke tempat duduknya. Saejin sendiri berpura- pura tidak melihatnya, sibuk mempersiapkan buku materinya yang tebal dan segera memakai kacamata burung hantunya, berpura- pura sibuk menekuni tulisan di buku tebal tersebut. Namun hatinya mencelos mendengar suara kursi berderit dan detik kemudian Sunny telah duduk di depannya, menatap Saejin dengan tatapan tajam dan menginterogasi.

“H—hai,” Saejin tersenyum polos, yang bagi sahabt baiknya ini terlihat sangat mencurigakan.

“Kau pulang jam berapa semalam?” tanya Sunny curiga, dan tatapan menakutkan.

“A—aku? E—entahlah, aku lupa,”

“Yah, Han Saejin, aku benar- benar khawatir dan mencarimu ke mana- mana! Aku pikir kau pulang duluan!” bentak Sunny yang membuat seisi ruangan memperhatikannya. Sunny yang sadar, memelankan sedikit suaranya. “Kau di mana sehabis acara?”

“Aku…” jantung Saejin berdetak kencang, dia tanpa sadar terlihat khawatir dan wajahnya memerah. “Aku tersesat. Hotelnya besar sekali, a—aku mencari kamar mandi dan aku malah tersesat.”

Kebohongan yang cukup bodoh, Saejin tahu Sunny tidak akan percaya. “Jeongmal? Lalu kenapa tidak menelponku?”

“Ponselku habis bateri,” Kali ini Saejin tidak berbohong, ponselnya memang habis batre semalam, seandainya dia dapat menghubungi Sunny pasti dia sudah pulang cepat dan hal itu tidak akan terjadi.

Aaaaaaaagh, Saejin bodoh! Kenapa kau mengingatnya lagi???

Sunny mendesah. “Aku benar- benar khawatir! Sehabis makan malam kau hilang jadi aku pikir kau sudah pulang…”

Saejin hanya diam, pura- pura menekuni buku.

“Geundae, sehabis acara makan malam itu, Kyuhyun oppa juga sudah tidak ada. Member yang lain sempat menyanyi dan mengisi acara tapi Kyuhyun oppa tidak terlihat lagi. Tsk, di mana ya dia? Harusnya dia menandatangani kasetku. Kasetmu juga! Kau kan fans beratnya!”

Deg! Saejin tertegun dan nafasnya terasa berat. Sial kenapa malah nama itu disebut disaat Saejin sedang tidak ingin mengingatnya? Saejin tidak mengindahkan ocehan Sunny lagi, dia sibuk menenangkan hatinya dan menyeka keringat dingin dari wajahnya.

Aniya, tidak apa- apa, tidak akan terjadi apa- apa. Lupakan saja semua yang terjadi. Saejin mencengkeram pembatasn buku yang dipegangnya hingga pembatas itu kusut.

“Saejin—ah, kau tidak apa- apa?” tanya Sunny khawatir, melihat wajah tegang sahabatnya yang sekarang dipenuhi keringat.

“N—neh? A—aniya, aku tidak apa- apa.” Saejin tertawa gugup dan kembali sibuk menekuni buku tebalnya. Sunny seperti ingin mengatakan sesuatu tapi professor mereka masuk dan dia segera kembali ke kursinya. Saejin menarik nafas lega dan menutup mata.

Tidak, ini bukan saat yang tepat untuk bertingkah seperti orang aneh.

*

“Yah, ini sudah 2 jam, di mana bedebah itu?” ujar Leeteuk, menatap arlojinya dengan sebal dan berkacak pinggang. Staff dan member Super Junior yang lain juga terlihat sama gelisahnya dengan dia, menunggu kedatangan satu member lagi yang entah mengapa dari tadi tidak menunjukkan batang hidungnya, dan juga tidak mengaktifkan ponselnya.

“Sejak acara tadi malam dia menghilang,” Donghae mendesah. “Tidak ada yang bisa menghubunginya. Aku juga sudah mengecek noona-nya tapi dia juga tidak pulang.”

“aku tidak perduli dia berada di mana, dia harus ada di sini 5 menit lagi. Kalau tidak, acara hari ini batal dan kami akan menggantinya dengan grup lain.” Ujar panitia show dengan tatapan mengancam, tapi emosinya harus dimengerti mengingat mereka sudah membayar mahal untuk mengundang Super Junior di acara show ini. Para member dan staff kelihatan frustasi sementara manager mereka langsung menghampiri panitia dan menjelaskan semuanya.

“Kalau Kyuhyun tidak datang aku bersumpah akan mengulitinya sampai tuntas,” geram Leeteuk, menggenggam ponselnya dengan erat dan bergetar. Show ini sangat penting untuk comeback album mereka dan dia tidak menyangka seorang Cho Kyuhyun yang biasanya tepat waktu malah sekarang menimbulkan masalah. Tiba- tiba pintu terbuka dan orang yang mereka tunggu dari tadi berjalan dengan gontai ke arah mereka. Kyuhyun masih memakai pakaian santai dan terlihat bersih hanya saja wajahnya tidak menunjukkan tanda- tanda kehidupan. Pria itu terlihat bosan dan dingin.

“Yah, Cho Kyuhyun—kau pikir kau sedang apa??”

Kyuhyun tidak mengindahkan suara manager yang kini terlihat marah.

“Kenapa kau diam saja? Kau tahu berapa lama kami menunggumu? Dari mana saja kau—“

“Maaf,” kata Kyuhyun dingin. “Intinya sekarang aku sudah sampai.”

Manager terlihat kehabisan kata, dia sendiri heran melihat keadaan Kyuhyun yang terlihat muram. Pria itu pasrah digerak oleh peñata rias yang dengan darurat merapikan dirinya, tak mengindahkan tatapan heran dan marah dari hyung-nya. Kyuhyun menatap kaca rias di depannya dengan pandangan tajam, membiarkan rambutnya ditata dan mukanya dipakaikan riasan.

*

Saejin duduk di depan meja kasir dengan tangan menggenggam sebuah buku. Setelah sepulang dari kampus dia langsung menuju ke toko roti kakeknya dan membantu beliau berjualan. Semenjak orangtuanya meninggal karena kecelakaan pesawat gadis itu dibesarkan sendirian oleh kakeknya yang memiliki toko bakery dan cake. Saejin sesungguhnya sangat suka berada di sini—dia menyukai aroma roti yang baru saja matang atau aroma selai mentega untuk kue. Dan juga bekerja sebagai kasir membuatnya mendapatkan uang jajan tambahan.

“Aigoo, lihat kutu buku ini, yah—Han Saejin, berhenti belajar!” kata kakeknya yang baru saja meletakkan sekeranjang roti cokelat di samping meja kasir.

“Aku punya ujian anatomi minggu depan,” ujar Saejin dibalik kaca matanya.

“Kalau begitu pulang belajar, untuk apa kau di sini?”

“Aku butuh uang jajan tambahanmu,” seru Saejin polos dan kakeknya memukul kepalanya. “Anak nakal!”

Saejin menggaruk kepalanya kemudian berkonsentrasi pada buku pelajarannya. Meskipun kakeknya kadang mengomelinya tapi Saejin tahu kakeknya sangat bangga padanya dan selalu menceritakan tentang dirinya pada siapapun setiap beliau memiliki kesempatan. Saejin ingat di hari mereka mengumumkannya diterima di unversitas kedokteran Kyunghee dan mendapat beasiswa, kakeknya menelepon semua orang yang beliau tahu dan memberitahukan berita itu. Kakeknya adalah satu- satunya anggota keluarga Saejin dan dia bertekad akan melakukan apapun untuk membuat kakeknya bahagia dan bangga padanya.

Tapi…

Sudahlah, lupakan itu Han Saejin! Saejin menggelengkan kepalanya dan kembali berkonsentrasi belajar. Asalkan dia melupakannya, semuanya pasti akan beres kan? Tentu saja kakeknya tidak boleh tahu, dia bergidik membayangkan bencana apa yang akan muncul ketika kakeknya tahu apa yang baru saja dia lakukan. Tapi tetap saja perasaan bersalah dan tidak tenang menghantuinya. Kakeknya pasti akan sangat kecewa dengan dirinya.

Dia juga kecewa pada dirinya sendiri.

Saejin mendesah dan tiba- tiba perhatiannya tertuju pada tv di seberang ruangan yang menyiarkan sebuah show terkenal yang selalu ditayangkan tiap sore dan menjadi tontonan favorit Saejin dan kakeknya. “Haraboji, acaranya sudah dimulai!” lapor Saejin pada kakeknya yang segera beranjak dari dapur dan duduk di samping Saejin.

“Anda sedang menyaksikan Strong Heart episode special comeback dari Idol Grup paling terkenal di Asia dan pemimpin Halyu Wave: Super Junior!”

Deg! Saejin tertegun. Jantungnya kembali berdetak kencang, sangat kencang hingga dia khawatir kakeknya dapat mendengarnya. Keringatnya bercucuran apalagi ketika dia melihat sosok yang dikenalnya sedang duduk di sisi paling kiri dari kursi bintang tamu, tersenyum cuek pada para MC. Perasaan gelisah dan resah menyelimuti Saejin dan kepalanya terasa kosong.

Sesungguhnya bodoh sekali kalau dia berfikir segampang itu melupakan apa yang terjadi. Dengan pria itu yang baik nama dan wajahnya muncul di mana saja seperti hantu. Saejin menutup mata dan menghela nafas.

“Yah, bukankah itu pujaan hatimu?” kata si kakek, menunjuk ke layar.

“N—neh?” Saejin menatap kakeknya dan tertawa nervous.

“Siapa yang kau suka? Yang suaranya bagus itu—Kwihyun?”

“E—entahlah,” kata Saejin, focus pada buku pelajarannya lagi.

“Sesungguhnya dia lumayan, persis seperti kakek dulu waktu masih muda,” kakek tertawa, merasa lucu dengan bualannya sendiri sementara Saejin sudah membeku di tempatnya. Saejin membolak balikkan halaman, antara ingin pergi saja tapi tidak ingin meninggalkan kakeknya. Pun begitu, telinganya tidak bisa lepas dari pembicaraan di acara show itu.

“Kalau begitu, magnae kita Cho Kyuhyun—selain mempersiapkan diri untuk promosi album baru kalian, apa saja kegiatanmu?”

“Dia sibuk mencari pacar,” canda Leeteuk, yang membuat seluruh isi studio tertawa. Tangan Saejin mengepal, teringat perkataan pria itu semalam.

“Menurutmu, apa seharusnya aku melupakannya saja? Kalau iya, menurutmu bagaimana caranya?”

Saejin mendesah. Lupakan, lupakan, lupakan! Saejin menepuk kepalanya berkali- kali berharap kalimat- kalimat dan bayangan yang tidak dia inginkan terbang keluar. Kakeknya yang melihat itu semua malah mendorong kepalanya dengan siku- siku jarinya. “Aigoo! Apa yang kau pikirkan?”

“Harabojii!” protes Saejin, mengelus kepalanya.

“Pertanyaan berikutnya, member manakah yang mungkin akan menikah dengan penggemarnya?”

Para member bertatapan, beberapa dari mereka seperti bingung mencari siapa yang bisa mereka tunjuk.

“Mungkin saja bisa si magnae?” ujar MC. Mereka menatap Kyuhyun yang terlihat bingung lalu berkata. “Sepertinya tidak.” seluruh studio kembali tertawa dan para member memilih Donghae karena dia yang paling ramah pada fans mereka.

“Yah, dengarkan aku,” ujar kakek pada Saejin. “Salah satu dari mereka, pasti akan menikahi penggemarnya. Banyak wanita yang merelakan apa saja untuk bisa bersama mereka, pilih salah satu tidak ada salahnya.”

Saejin terus membaca bukunya membuat kakeknya heran. “Haraboji, bagaimana kalau ganti channel saja? Aku ingin nonton drama.”

Kakek menatap Saejin dengan heran, biasanya gadis ini bersemangat setiap idolanya muncul di TV dan tak jarang mereka bertengkar memperebutkan remot tv karena kakeknya ingin menonton acara lain. Saejin mengambil remot tanpa menunggu jawaban kakeknya dan memindahkan siaran ke channel lain, berpura- pura tertarik pada drama yang sedang ditayangkan.

Malamnya Saejin kembali ke asrama, sedikit lebih larut karena dia tahu Sunny pasti sedang keluar dengan tim basketnya. Saejin berjalan menyusuri trotoar. Musim salju tiba dan dia harus memakai beberapa lapis karena tubuhnya tidak tahan dingin. Saejin menyembunyikan kedua tangannya di saku jubahnya, mendengarkan musik dari ipodnya sambil melamun, kebiasaannya saat berjalan dan tak jarang dia hampir jatuh atau menyambar orang lain dan bahkan tembok. Hanya saja kali ini jalannya lebih pelan karena pikirannya sedang sibuk.

Kenapa perasaan ini tidak ingin pergi? Seperti ada bagian dari dirinya yang hilang, yang membuat dirinya tidak sama seperti dulu lagi. Hatinya diliputi penyesalan dan berbagai kata ‘seandainya’. Seandainya yang terjadi kemarin malam tidak pernah ada… Saejin menutup mata dan menggeleng. Dia sudah cukup menangis dan sekarang menangis pun memang percuma.

Gadis itu sibuk berandai- andai dan hampir ketinggalan busnya. Dan selanjutnya di bus pikirannya kembali berlanjut.

Kamar kosong dan gelap ketika Saejin pulang, menandakan Sunny masih di luar. Dia memang sengaja menghindarinya agar gadis itu tidak menyerangnya dengan berbagai pertanyaan lagi. Saejin meletakkan tas selempangnya di meja dan duduk di kursi sambil menghela nafas. Oh iya, dia kan harus menyelesaikan tugas. Saejin membuka tas selempangnya dan mencari kotak pensilnya yang entah tersembunyi di sudut mana. Saejin mendecak dan mengeluarkan seluruh isi tasnya, secara teknis membuang semua isinya di meja belajar.

“Ketemu,” gumamnya, mengambil kotak pensilnya tapi sesuatu menyita perhatiannya. Sebuah dompet tebal berwarna cokelat gelap, yang pasti bukan dompetnya. Saejin mengerutkan kening. Apa ini dompet Sunny? Gadis itu membuka dompetnya dan tertegun melihat ID card yang terpampang di bagian dalam dompet.

Cho Kyuhyun.

*

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s